
(Sumber gambar: Facebook Aquaman Movie)
DC Extended Universe (atau Cinematic Universe; beda sebutan namun sama makna) memang secara kualitas dan kuantitas masih tertatih-tatih di pasar film superheroes dunia jika dibandingkan dengan Marvel Cinematic Universe alias MCU yang kokoh lebih dari sepuluh tahun terakhir menguasai genre superheroes di kancah industri film dunia.
Kesalahan pihak Warner Bros. (sebagai pemilik IP karakter superheroes DC Comics) yang membangun ‘semesta’ para karakter komik DC di layar lebar memang harus dibayar mahal.
Jika dibandingkan Marvel Studios (dan Disney, sebagai Boss Besar di Marvel), film-film superheroes Warner Bros. sering sekali mendapatkan treatment buruk. Fans dan pers sering tidak puas, bahkan mencela, film-film DC Comics. Sejak dari “Man of Steel” (2013), DC Extended Universe dibangun secara terburu-buru dengan fondasi yang cenderung dipaksakan.
Berbeda dengan Marvel Cinematic Universe. Dimulai dari “Iron Man” (2008), Marvel dan Disney melakukan apa yang tidak dilakukan oleh DC dan Warner Bros. Yaitu membangun dunia dan karakter setiap tokoh utama dalam komik secara individual sebelum kemudian menggabungkannya jadi satu ke dalam dunia besar seperti yang terlihat di seri “Avengers”.
Dunia DC Comics yang dibangun di film oleh Warner Bros pasca Man of Steel terasa seperti dikebut. Kejar tayang. Sehingga saat film “Justice League” (2017) rilis, fans seakan-akan mendapatkan nasi yang dimasak secara terburu-buru. Rasanya aneh. Tidak sempurna. Berbeda dengan fans Marvel, yang mendapatkan nasi mereka secara sempurna. Tidak terasa keras, hambar, terlalu lembek dan pulen.
Bahkan boleh dibilang dari seluruh film DC Extended Universe sejak Man of Steel hingga Justice League (total ada enam judul), hanya “Wonder Woman” (2017) yang mendapatkan apresiasi positif secara global. Pujian kritikus, fans, serta pemasukan uang yang oke. Wonder Woman seakan-akan menyelamatkan “muka” DC Comics dan Warner Bros. di tengah persaingan dengan Marvel Comics dan Disney.

Wonder Woman (Sumber gambar: Digital Trends)
Dan hal yang sama jadi harapan, atau malah jadi beban, untuk film DC Comics selanjutnya: “Aquaman” (2018).

(Sumber gambar: Amazon)
Sebagai salah satu karakter klasik DC Comics, Aquaman tidak terlalu terkenal ataupun di anggap ‘serius’ seperti halnya “The Holy Trinity” (Superman, Batman dan Wonder Woman) DC Comics. Citranya lebih komikal. Itu terbangun dari komik-komik dan animasi sebelum era modern seperti saat ini.
Seperti yang saya katakan sebelumnya: DC dan Warner membangun dunia film karakter komik DC dengan cara yang salah.
Aquaman diperkenalkan dalam film tidak dengan solo movie terlebih dahulu. Sama seperti Wonder Woman, The Flash atau Cyborg. Mereka semua tumplek diperkenalkan di film Justice League (atau lebih spesifiknya lagi: di film Batman v Superman – Dawn of Justice). Sehingga film yang seharusnya menjadi sebuah ‘puncak’ malah jadi lebih mirip film yang gagal memberikan kepuasan maksimum.
Positifnya: Aquaman diperkenalkan dengan citra yang berbeda jika dibandingkan dengan film animasi “Super Friends”. Jason Momoa, aktor macho dari Hawaii, secara meyakinkan berhasil menghidupkan karakter komik yang dulu di-cap komedik dan ‘loyo’ menjadi lebih ‘laki banget’ tanpa kehilangan unsur komediknya. Menurut saya ini sebuah pencapaian bagus dari DC Extended Universe untuk bagian karakteristik tokoh komik seperti Aquaman.

Aquaman di film Justice League (Sumber gambar: Batman-News)
Film solo Aquaman memberikan apa yang seharusnya di dapatkan oleh para fans DC Comics sebelum film Justice League. Situasi yang terbalik; namun sudah terlanjur. Film Aquaman seharusnya memang terjadi sebelum film Justice League.
Sutradara James Wan secara meyakinkan berhasil menciptakan sebuah film yang cocok sebagai debut Aquaman ke publik (walau debut Aquaman sebenarnya ada di film Justice League | Batman v Superman). Aksi tarung di film ini seru! Seru banget. Visualisasi Atlantis, kota “hilang” yang merupakan asal muasal ibunya Aquaman, terlihat cakep.

James Wan saat mengarahkan Amber Heard, Jason Momoa dan Willem Dafoe (Sumber gambar: Flickering Myth)
Oh iya… Nicole Kidman (masih cantik dan seksi di usia yang sudah lewat setengah abad) berperan di film ini sebagai emak-nya Arthur Curry alias Aquaman.
“Diceritakan kalau puteri dari kerajaan bawah laut Atlantis, Atlanna (diperankan oleh Kidman), terdampar ke pantai ‘dunia atas’ saat kabur dari perjodohan dan diselamatkan penjaga mercu suar Thomas Curry. Keduanya jatuh cinta dan Arthur lahir ke dunia sebagai buah dari cinta mereka. Sebuah situasi memaksa Atlanna berpisah dari anak dan suaminya untuk kembali ke Atlantis. Dan Arthur, tumbuh dengan kebencian akan Atlantis, kelak harus menerima takdirnya sebagai Raja Tujuh Samudera”

Nicole Kidman (Sumber gambar: Comic Book)
Kisah lengkapnya… kamu harus tonton sendiri dong. Di bioskop tentunya hehehehe.
Film Aquaman dibuat oleh James Wan dengan tone yang relatif lebih ‘ringan/terang/penuh warna’ ketimbang film-film DC Comics sebelumnya. Yang terasa ‘berat/kusam/monokrom’ seperti yang diberikan oleh Zack Snyder sebagai sutradara film Man of Steel, Batman v Superman maupun Justice League.
Mungkin ini usaha James Wan untuk meredakan protes dan kritikan yang diterima film-film DC Extended Universe selama ini? Wonder Woman, di-sutradarai oleh Patty Jenkins, juga terasa lebih ringan dan terang dibandingkan film-film DCEU buatan Snyder.
Secara visual, film Aquaman terlihat sangat oke. Penggambaran dunia bawah laut seperti Atlantis sangat keren. Benar-benar terasa seperti ‘sedang berada di dalam air’. Akting para pemerannya juga tidak mengecewakan.

Bagian Atlantis di film Aquaman (Sumber gambar: Nerdist)
Jason Momoa membentuk kesan kalau peran Aquaman yang dilakukannya akan jadi “Gold Standard” jika seandainya film Aquaman akan dibuat lagi di masa depan. Amber Heard yang berperan sebagai Mera menunjukkan kalau di DC Extended Universe, cewek seksi yang badass tidak hanya Diana “Wonder Woman” atau Harley Quinn.

Arthur Curry /Aquaman dan Princess Mera (Sumber gambar: Refinery29)
Nuidis Vulko, guru/mentor Arthur yang dikirim Atlanna untuk melatih Arthur diperankan oleh aktor veteran Willem Dafoe (yang juga pernah berperan sebagai Norman Osborn di film “Spider-Man” tahun 2002).

Vulko (Sumber gambar: Comic Book)
Dolph Lundgren berperan sebagai King Nereus, ayah dari Mera. Lundgren kita kenal di banyak film aksi seperti “The Expendables” ataupun “Rocky”.

King Nereus (Sumber gambar: Comic Book)
Bahkan peran antagonis di film ini juga terasa keren berkat akting maupun tampilan kostum-kostum mereka.
King Orm alias Ocean Master (diperankan aktor Patrick Wilson yang sering muncul di panggung Broadway) maupun David Kane atau Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) memiliki kostum yang keren.

King Orm (Sumber gambar: Pop Sugar Australia)
Mungkin bakal ada yang cosplay sebagai Orm dan Black Manta kelak di comic con atau acara penggemar komik nanti.

Black Manta (Sumber gambar: Screen Rant)
Selain kostum Mera tentunya. Saya berani jamin kalau kostum Mera akan jadi favorit di event cosplay maupun Halloween nanti. Hal yang sama terjadi untuk kostum Wonder Woman sebelumnya.

Queen Mera dengan deretan kostumnya (Sumber gambar: Twitter)
Jika mau dicari, “kesalahan” dari film ini mungkin ada di bagian plot?
Beberapa pendapat menyatakan kalau plot-nya rada mirip film “Black Panther” (2018) dari Marvel. Opini yang menyesatkan, menurut saya. Karena plot film Aquaman berdasarkan apa yang jadi lore-nya Aquaman di buku komik.
Arthur Curry half-breed antara manusia permukaan dengan orang Atlantis. Ibunya adalah Ratu Atlantis. Punya saudara tiri yang berambisi jahat kepada dunia permukaan. Itu semua sesuai seperti di komik Aquaman. Bukan karena meniru lore di (film) Black Panther.
Lagipula Aquaman punya satu ‘pesan layanan masyarakat’ yang tidak dimiliki oleh Black Panther: yaitu soal bagaimana manusia merusak dan menciptakan polusi ke lautan dan mengacaukan ekosistem dengan tumpukan sampah.
Secara tidak langsung, film Aquaman mencoba menyadarkan manusia untuk tidak merusak lautan dengan polusi serta sampah. Itu terasa banget di film Aquaman ini.
Yang jelas, film solo Aquaman ini memang diperlukan untuk DC Extended Universe sebagai fondasi baru yang menguatkan. Wonder Woman sudah melakukan tugas itu dengan sangat baik di tahun 2017 dan akan kembali lewat sekuel yang saat ini sedang proses syuting. Sementara film “Shazam!” (2019) juga diharapkan akan menambah kekuatan DC Extended Universe sehingga saat film Justice League berikut muncul nanti, rasa yang ada akan lebih greget ketimbang sebelumnya.
Sebagai film superhero solo, menurut saya film Aquaman berhasil memberikan penonton sebuah tontonan film superhero yang komplit. Karakter-karakter keren, visualisasi yang ‘wah’, aksi adu jotos yang seru, pesan untuk menjaga lingkungan dan kisah seimbang antara dramatis dengan ‘yah lumayan lah’. Hal yang sama sudah diberikan oleh Wonder Woman sebelumnya. Dan Aquaman melanjutkan hal tersebut dengan oke.
Sebuah sinyal baik kalau DC Extended Universe / Cinematic Universe kini sudah berada di atas rel yang benar? Sebagai fans lama DC Comics saya jelas berharap demikian.
Tapi apakah kamu sependapat dengan saya? Suarakan pendapatmu!
Trailer film Aquaman: https://www.youtube.com/watch?v=2wcj6SrX4zw
One thought on “Aquaman: Meneruskan Usaha Wonder Woman Membangun DCEU Yang Lebih Baik”