Serial Gyakuten Saiban / Ace Attorney: Saat Tema Serius Dikemas Edukatif Komedik

banner_capcom

(Sumber gambar: Capcom)

Buat video gamers dari kalangan pemain fighting game / FGC, nama “Capcom” adalah identik dengan game berantem fenomenal “Street Fighter” series yang sudah berusia 30 tahun lebih. Capcom adalah perusahaan yang mengembangkan serta menerbitkan berbagai game Street Fighter di hampir semua platform.

Tapi tentu saja Capcom tidak melulu soal Street Fighter.

Mereka juga menciptakan game ikonik lain dengan genre berbeda dari Street Fighter. Ambil contoh side scrolling shooting adventure “Mega Man”. IP yang di Jepang lebih dikenal dengan nama “Rockman” ini juga melegenda di kalangan gamers sejak era 8-Bit NES klasik. Baik Street Fighter maupun Mega Man merupakan dua dari begitu banyak IP yang menjadi fondasi kekuatan merk Capcom di industri gaming dunia.

street fighter x megaman_wikia

(Sumber gambar: Wikia)

Tentu ada pula judul game Capcom yang bukan genre berantem ataupun petualangan tembak-tembakan. Namun sebuah game “Visual Novel Adventure” dengan elemen puzzle yang intens dan jalan cerita yang tidak kalah dengan drama seri ‘law procedural’ sekalipun. Sangat menarik.

 

 

Gyakuten Saiban (Sumber gambar: GameSpot)

Game ini diberi judul “Gyakuten Saiban”.

Dalam bahasa Indonesia kurang lebih berarti “Pengadilan (Yang) Berputar Arah” karena dalam bahasa Inggris judul ini bisa diartikan sebagai “Turnabout Trial”. Tapi lucunya saat di-translasikan ke pasar internasional judul yang digunakan adalah “Phoenix Wright: Ace Attorney” ; merujuk pada nama tokoh utama game ini (yang dalam versi bahasa Jepang menggunakan nama Ryuichi Naruhodo).

 

 

Phoenix Wright: Ace Attorney (Sumber gambar: GameSpot)

Jika biasanya game visual novel mengambil tema romance ataupun ecchi, Gyakuten Saiban menggunakan tema yang tidak biasa. Yaitu “Courtroom Drama” alias drama ruang sidang pengadilan.

Sebagai karakter bernama Phoenix Wright, pemain akan berperan sebagai pengacara muda pemula yang berusaha membuktikan kalau klien-nya tidak bersalah melalui serangkaian aksi penyelidikan, pemeriksaan barang bukti, maupusesi bertanya dengan berbagai saksi untuk menemukan ketidak cocokan antara kesaksian dengan bukti-bukti yang ada.

Game perdana dari serial ini, “Phoenix Wright: Ace Attorney” (atau “Gyakuten Saiban 逆転裁判 ”) dirilis tahun 2001 untuk handheld Nintendo Game Boy Advance. IP ini diciptakan oleh Shu Takumi, yang juga menulis serta menyutradarai sekaligus.

screenshot gameplay ace attorney_redbull.jpg

Screenshot “Phoenix Wright: Ace Attorney – Spirit of Justice (Sumber gambar: RedBull)

Awalnya Takumi berniat menciptakan sebuah game detektif untuk handheld Nintendo Game Boy Color dimana game tersebut harus seru namun mudah dimainkan siapa saja; bahkan oleh ibu-ibu sekalipun. Shu Takumi mengatakan kalau tujuan menciptakan game ini adalah pemainnya dapat berinteraksi dalam situasi pemecahan kasus dan teka-teki namun tidak terlalu serius agar mudah untuk dipahami atau dinikmati gamer casual.

Dan sepertinya niat tersebut berhasil diwujudkan oleh Shu Takumi lewat “Gyakuten Saiban”.

Pasca game perdana Phoenix Wright di Game Boy Advance (dan selanjutnya di-port ke Nintendo DS), judul ini dengan segera menjadi serial penting untuk Capcom. Game demi game Ace Attorney dibuat, dan selama 15 tahun terakhir sudah terjual lebih dari 6 juta kopi.

Gameplay unik yang ada di game Phoenix Wright dipuji oleh banyak kalangan sebagai sesuatu yang ‘fresh’ di antara tema-tema visual novel lain yang cenderung mengarah ke elemen romansa. Di game Ace Attorney, pemain akan ‘dipaksa’ memperhatikan detil-detil yang disajikan demi mendapatkan petunjuk untuk menyelesaikan kasus yang sedang ditangani. Adegan ikonik “OBJECTION!” di game ini juga lucu dan sering jadi bahan meme di masa-masa awal IP ini beredar. Model rambut gokil Phoenix Wright itu juga terbilang nyentrik untuk seorang pengacara.

objection!_youtube

(Sumber gambar: YouTube)

Secara umum, gameplay di game Ace Attorney memang bernuansa serius. Kasus-kasus pengadilan di game ini juga serius; seperti misalnya kasus pembunuhan. Tergantung dari pemain game Ace Attorney untuk dapat membuktikan klien mereka tidak bersalah karena slogan di game ini adalah “Terdakwa Bersalah Hingga Terbukti Tidak Bersalah”.

Tapi aksi Phoenix Wright saat berusaha memenangkan kliennya terkadang disertai aksi-aksi komedik khas anime Jepang juga. Sehingga kesan yang ada tidak terlalu tegang walau tidak menghilangkan unsur serius dalam game-nya.

Adegan pemeriksaan saksi: https://www.youtube.com/watch?v=GJWiohNd3Us

Ryuichi Naruhodo / Phoenix Wright memang tokoh penting di serial Ace Attorney ini namun dia tidak selalu menjadi tokoh utama di semua game Ace Attorney. Game ini, seperti halnya IP terkenal lain, juga memiliki berbagai spin-off di luar game utama yang berjumlah enam seri itu. Sampai saat ini setidaknya ada lima judul spin-off dari Ace Attorney; dimana dua yang paling akhir (“Dai Gyakuten Saiban” yang dirilis 2015 & 2017 di Jepang) cukup unik karena ber-setting jauh di masa lalu, tepatnya era Meiji/akhir abad ke-19, dengan tokoh utama nenek moyang Ryuichi bernama Ryunosuke Naruhodo.

dai gyakuten saiban 2_youtube

Dai Gyakuten Saiban 2 (Sumber gambar: YouTube)

Sayang hingga kini seri Dai Gyakuten Saiban belum di-translasikan ke bahasa Inggris sehingga untuk fans yang ingin memainkan game ini harus mengerti bahasa Jepang lebih dulu untuk dapat menikmatinya.

Trailer “Dai Gyakuten Saiban 2” : https://www.youtube.com/watch?v=puztrOXp_4o

Phoenix Wright juga pernah jadi cameo di game fighting Capcom “Ultimate Marvel vs Capcom 3”. Gaya berantemnya gokil abis dengan serangan-serangan yang nyeleneh dan tak lupa seruan ikonik “OBJECTION!” ikut sebagai special move dia. Jelas penempatan Phoenix Wright di game Ultimate Marvel vs Capcom 3 tak lebih sebuah fanservice dari Capcom. Bukan hal buruk juga sih…

Trailer Phoenix Wright Ultimate Marvel vs Capcom 3: https://www.youtube.com/watch?v=dyFTj-0D4aA

Phoenix Wright bahkan juga merambah medium entertainment lain seperti anime dan live action movie.

Anime “Gyakuten Saiban” dirilis tahun 2016 oleh Studio A-1 Pictures. Sekuelnya saat ini diputar bersama anime-anime musim gugur 2018 lain di televisi Jepang.

Trailer anime Gyakuten Saiban – Season 2 : https://www.youtube.com/watch?v=L7mSDQypFKg

Sementara film live action Gyakuten Saiban muncul tahun 2012 dan disutradarai sutradara Jepang yang doyan adaptasi film dari game: Takashi Miike. Miike dikenal sebagai sutradara nyentrik dengan film-film seperti “Ryu ga Gotoku Gekijoban” (2007) yang merupakan adaptasi game “Yakuza” SEGA serta adaptasi manga/anime populer “JoJo’s Bizarre Adventure – Part IV”.

Trailer live action Gyakuten Saiban Movie ; https://www.youtube.com/watch?v=20xsntIVokk

Selain di Game Boy dan NDS, serial Ace Attorney juga dibuat untuk platform lain seperti Nintendo Wii, Nintendo Switch, PlayStation 4, Xbox One, Windows PC dan tentu saja platform sejuta ummat: smartphone Android dan iOS. Luasnya platform game Ace Attorney membantu judul ini untuk semakin dikenal tidak hanya gamers ‘serius’ tapi juga pemain game-game smartphone alias casual gamers. Sebuah hal menguntungkan bagi Capcom tentunya.

ace attorney trilogy_topbestalternatives

Ace Attorney untuk smartphone (Sumber gambar: TopBestAlternatives)

Gameplay “Phoenix Wright: Ace Attorney Trilogy” : https://www.youtube.com/watch?v=qmBaXBABskc

Jika kamu penggemar game puzzle yang membutuhkan daya nalar, konsentrasi namun dengan sedikit sentuhan komedi dan drama, game-game Gyakuten Saiban alias Phoenix Wright: Ace Attorney cocok untuk kamu mainkan. Dijamin tidak akan mengecewakan. Coba saja!

Aquaman: Meneruskan Usaha Wonder Woman Membangun DCEU Yang Lebih Baik

banner_facebook

(Sumber gambar: Facebook Aquaman Movie)

DC Extended Universe (atau Cinematic Universe; beda sebutan namun sama makna) memang secara kualitas dan kuantitas masih tertatih-tatih di pasar film superheroes dunia jika dibandingkan dengan Marvel Cinematic Universe alias MCU yang kokoh lebih dari sepuluh tahun terakhir menguasai genre superheroes di kancah industri film dunia.

Kesalahan pihak Warner Bros. (sebagai pemilik IP karakter superheroes DC Comics) yang membangun ‘semesta’ para karakter komik DC di layar lebar memang harus dibayar mahal.

Jika dibandingkan Marvel Studios (dan Disney, sebagai Boss Besar di Marvel), film-film superheroes Warner Bros. sering sekali mendapatkan treatment buruk. Fans dan pers sering tidak puas, bahkan mencela, film-film DC Comics. Sejak dari “Man of Steel” (2013), DC Extended Universe dibangun secara terburu-buru dengan fondasi yang cenderung dipaksakan.

Berbeda dengan Marvel Cinematic Universe. Dimulai dari “Iron Man” (2008), Marvel dan Disney melakukan apa yang tidak dilakukan oleh DC dan Warner Bros. Yaitu membangun dunia dan karakter setiap tokoh utama dalam komik secara individual sebelum kemudian menggabungkannya jadi satu ke dalam dunia besar seperti yang terlihat di seri “Avengers”.

Dunia DC Comics yang dibangun di film oleh Warner Bros pasca Man of Steel terasa seperti dikebut. Kejar tayang. Sehingga saat film “Justice League” (2017) rilis, fans seakan-akan mendapatkan nasi yang dimasak secara terburu-buru. Rasanya aneh. Tidak sempurna. Berbeda dengan fans Marvel, yang mendapatkan nasi mereka secara sempurna. Tidak terasa keras, hambar, terlalu lembek dan pulen.

Bahkan boleh dibilang dari seluruh film DC Extended Universe sejak Man of Steel hingga Justice League (total ada enam judul), hanya “Wonder Woman” (2017) yang mendapatkan apresiasi positif secara global. Pujian kritikus, fans, serta pemasukan uang yang oke. Wonder Woman seakan-akan menyelamatkan “muka” DC Comics dan Warner Bros. di tengah persaingan dengan Marvel Comics dan Disney.

wonder woman_digitaltrends

Wonder Woman (Sumber gambar: Digital Trends)

Dan hal yang sama jadi harapan, atau malah jadi beban, untuk film DC Comics selanjutnya: “Aquaman” (2018).

aquaman_amazon

(Sumber gambar: Amazon)

Sebagai salah satu karakter klasik DC Comics, Aquaman tidak terlalu terkenal ataupun di anggap ‘serius’ seperti halnya “The Holy Trinity” (Superman, Batman dan Wonder Woman) DC Comics. Citranya lebih komikal. Itu terbangun dari komik-komik dan animasi sebelum era modern seperti saat ini.

Seperti yang saya katakan sebelumnya: DC dan Warner membangun dunia film karakter komik DC dengan cara yang salah.

Aquaman diperkenalkan dalam film tidak dengan solo movie terlebih dahulu. Sama seperti Wonder Woman, The Flash atau Cyborg. Mereka semua tumplek diperkenalkan di film Justice League (atau lebih spesifiknya lagi: di film Batman v Superman – Dawn of Justice). Sehingga film yang seharusnya menjadi sebuah ‘puncak’ malah jadi lebih mirip film yang gagal memberikan kepuasan maksimum.

Positifnya: Aquaman diperkenalkan dengan citra yang berbeda jika dibandingkan dengan film animasi “Super Friends”. Jason Momoa, aktor macho dari Hawaii, secara meyakinkan berhasil menghidupkan karakter komik yang dulu di-cap komedik dan ‘loyo’ menjadi lebih ‘laki banget’ tanpa kehilangan unsur komediknya. Menurut saya ini sebuah pencapaian bagus dari DC Extended Universe untuk bagian karakteristik tokoh komik seperti Aquaman.

aquaman justice league_batman-news

Aquaman di film Justice League (Sumber gambar: Batman-News)

Film solo Aquaman memberikan apa yang seharusnya di dapatkan oleh para fans DC Comics sebelum film Justice League. Situasi yang terbalik; namun sudah terlanjur. Film Aquaman seharusnya memang terjadi sebelum film Justice League.

Sutradara James Wan secara meyakinkan berhasil menciptakan sebuah film yang cocok sebagai debut Aquaman ke publik (walau debut Aquaman sebenarnya ada di film Justice League | Batman v Superman). Aksi tarung di film ini seru! Seru banget. Visualisasi Atlantis, kota “hilang” yang merupakan asal muasal ibunya Aquaman, terlihat cakep.

james wan_flickeringmyth

James Wan saat mengarahkan Amber Heard, Jason Momoa dan Willem Dafoe (Sumber gambar: Flickering Myth)

Oh iya… Nicole Kidman (masih cantik dan seksi di usia yang sudah lewat setengah abad) berperan di film ini sebagai emak-nya Arthur Curry alias Aquaman.

“Diceritakan kalau puteri dari kerajaan bawah laut Atlantis, Atlanna (diperankan oleh Kidman), terdampar ke pantai ‘dunia atas’ saat kabur dari perjodohan dan diselamatkan penjaga mercu suar Thomas Curry. Keduanya jatuh cinta dan Arthur lahir ke dunia sebagai buah dari cinta mereka. Sebuah situasi memaksa Atlanna berpisah dari anak dan suaminya untuk kembali ke Atlantis. Dan Arthur, tumbuh dengan kebencian akan Atlantis, kelak harus menerima takdirnya sebagai Raja Tujuh Samudera”

nicole kidman_comicbook

Nicole Kidman (Sumber gambar: Comic Book)

Kisah lengkapnya… kamu harus tonton sendiri dong. Di bioskop tentunya hehehehe.

Film Aquaman dibuat oleh James Wan dengan tone yang relatif lebih ‘ringan/terang/penuh warna’ ketimbang film-film DC Comics sebelumnya. Yang terasa ‘berat/kusam/monokrom’ seperti yang diberikan oleh Zack Snyder sebagai sutradara film Man of Steel, Batman v Superman maupun Justice League.

Mungkin ini usaha James Wan untuk meredakan protes dan kritikan yang diterima film-film DC Extended Universe selama ini? Wonder Woman, di-sutradarai oleh Patty Jenkins, juga terasa lebih ringan dan terang dibandingkan film-film DCEU buatan Snyder.

Secara visual, film Aquaman terlihat sangat oke. Penggambaran dunia bawah laut seperti Atlantis sangat keren. Benar-benar terasa seperti ‘sedang berada di dalam air’. Akting para pemerannya juga tidak mengecewakan.

atlantis_nerdist

Bagian Atlantis di film Aquaman (Sumber gambar: Nerdist)

Jason Momoa membentuk kesan kalau peran Aquaman yang dilakukannya akan jadi “Gold Standard” jika seandainya film Aquaman akan dibuat lagi di masa depan. Amber Heard yang berperan sebagai Mera menunjukkan kalau di DC Extended Universe, cewek seksi yang badass tidak hanya Diana “Wonder Woman” atau Harley Quinn.

arthur & mera_refinery29

Arthur Curry /Aquaman dan Princess Mera (Sumber gambar: Refinery29)

Nuidis Vulko, guru/mentor Arthur yang dikirim Atlanna untuk melatih Arthur diperankan oleh aktor veteran Willem Dafoe (yang juga pernah berperan sebagai Norman Osborn di film “Spider-Man” tahun 2002).

willem dafoe_comicbook

Vulko (Sumber gambar: Comic Book)

Dolph Lundgren berperan sebagai King Nereus, ayah dari Mera. Lundgren kita kenal di banyak film aksi seperti “The Expendables” ataupun “Rocky”.

dolph-lundgren_comicbook

King Nereus (Sumber gambar: Comic Book)

Bahkan peran antagonis di film ini juga terasa keren berkat akting maupun tampilan kostum-kostum mereka.

King Orm alias Ocean Master (diperankan aktor Patrick Wilson yang sering muncul di panggung Broadway) maupun David Kane atau Black Manta (Yahya Abdul-Mateen II) memiliki kostum yang keren.

patrick wilson_popsugar australia

King Orm (Sumber gambar: Pop Sugar Australia)

Mungkin bakal ada yang cosplay sebagai Orm dan Black Manta kelak di comic con atau acara penggemar komik nanti.

Yahya-Abdul-Mateen-II_screenrant

Black Manta (Sumber gambar: Screen Rant)

Selain kostum Mera tentunya. Saya berani jamin kalau kostum Mera akan jadi favorit di event cosplay maupun Halloween nanti. Hal yang sama terjadi untuk kostum Wonder Woman sebelumnya.

QueenMera_twitter

Queen Mera dengan deretan kostumnya (Sumber gambar: Twitter)

Jika mau dicari, “kesalahan” dari film ini mungkin ada di bagian plot?

Beberapa pendapat menyatakan kalau plot-nya rada mirip film “Black Panther” (2018) dari Marvel. Opini yang menyesatkan, menurut saya. Karena plot film Aquaman berdasarkan apa yang jadi lore-nya Aquaman di buku komik.

Arthur Curry half-breed antara manusia permukaan dengan orang Atlantis. Ibunya adalah Ratu Atlantis. Punya saudara tiri yang berambisi jahat kepada dunia permukaan. Itu semua sesuai seperti di komik Aquaman. Bukan karena meniru lore di (film) Black Panther.

Lagipula Aquaman punya satu ‘pesan layanan masyarakat’ yang tidak dimiliki oleh Black Panther: yaitu soal bagaimana manusia merusak dan menciptakan polusi ke lautan dan mengacaukan ekosistem dengan tumpukan sampah.

Secara tidak langsung, film Aquaman mencoba menyadarkan manusia untuk tidak merusak lautan dengan polusi serta sampah. Itu terasa banget di film Aquaman ini.

Yang jelas, film solo Aquaman ini memang diperlukan untuk DC Extended Universe sebagai fondasi baru yang menguatkan. Wonder Woman sudah melakukan tugas itu dengan sangat baik di tahun 2017 dan akan kembali lewat sekuel yang saat ini sedang proses syuting. Sementara film “Shazam!” (2019) juga diharapkan akan menambah kekuatan DC Extended Universe sehingga saat film Justice  League berikut muncul nanti, rasa yang ada akan lebih greget ketimbang sebelumnya.

Sebagai film superhero solo, menurut saya film Aquaman berhasil memberikan penonton sebuah tontonan film superhero yang komplit. Karakter-karakter keren, visualisasi yang ‘wah’, aksi adu jotos yang seru, pesan untuk menjaga lingkungan dan kisah seimbang antara dramatis dengan ‘yah lumayan lah’. Hal yang sama sudah diberikan oleh Wonder Woman sebelumnya. Dan Aquaman melanjutkan hal tersebut dengan oke.

Sebuah sinyal baik kalau DC Extended Universe / Cinematic Universe kini sudah berada di atas rel yang benar? Sebagai fans lama DC Comics saya jelas berharap demikian.

Tapi apakah kamu sependapat dengan saya? Suarakan pendapatmu!

Trailer film Aquaman: https://www.youtube.com/watch?v=2wcj6SrX4zw